banner 728x250

Dua Anggota PWRI Kota Cirebon Kritisi Sikap Satpol PP dan Dinsos dalam Menangani Pengamen dan Manusia Silver

judul gambar

CIREBON, MediaTransparancy.com – Maraknya keberadaan para pengamen dan manusia silver terlihat di beberapa persimpangan jalan ramai di Kota Cirebon, terutama di perempatan lampu merah sepanjang Bypass Jl. Brigjen Darsono.

Kehadiran mereka biasanya mulai terlihat sekira pukul 15:00 WIB hingga malam hari, dan sering kali mengundang perhatian masyarakat. Meskipun mereka tidak melakukan tindakan kriminal atau memaksa para pengendara untuk memberikan uang receh, situasi ini menjadi perhatian khusus bagi pihak Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) dan Dinas Sosial (Dinsos) Kota Cirebon.

judul gambar

Kondisi ini memprihatinkan dan meresahkan bagi beberapa pengendara, terutama mengingat mayoritas pengamen dan manusia silver adalah usia remaja, bahkan ada juga yang masih anak-anak. Mereka nekat masuk ke tengah keramaian kendaraan yang berhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah untuk mencari belas kasihan, yang menimbulkan risiko bagi diri mereka sendiri dan orang lain.

Kepala Satpol PP Kota Cirebon, Edi Siswoyo, telah mengambil langkah penertiban yang intensif. Upaya tersebut melibatkan pengejaran para pengamen dan manusia silver hingga ke gang-gang kecil di sekitar permukiman penduduk. Meskipun tindakan ini mendapat apresiasi namun cara penanganan para pengamen dan manusia silver setelah penangkapan justru menimbulkan kontroversi.

“Kami menyaksikan langsung proses penertiban hingga pembinaan di kantor Satpol PP di Jl. Pangeran Drajat No. 49, Kecamatan Kesambi. Kejadian tersebut pada Rabu (10/7/2024) lalu. Para pengamen dan manusia silver yang tertangkap diperlakukan dengan cara yang menurut kami kurang manusiawi. Mereka dipaksa membuka pakaian, duduk di halaman beraspal, dan dikenai berbagai sanksi fisik seperti berlari bolak-balik dan berjalan bergendongan,” ungkap Niko dan Eka, keduanya merupakan wartawan dari media online kinerjaekselen dan merupakan anggota PWRI Kota Cirebon.

Masih menurut keduanya, salah satu insiden yang menjadi sorotan adalah ketika seorang pengamen dengan rambut panjang sebahu dipotong rambutnya secara asal oleh anggota Satpol PP.

Tindakan tersebut menimbulkan reaksi keras dari kedua awak media tersebut, karena menurut mereka masalah rambut adalah bagian dari mahkota kepala yang tidak ada kaitan dengan pelanggaran hukum. Tindakan serupa juga disaksikan Niko dan Eka saat melihat dua anak manusia silver yang dipaksa bertelanjang dada dengan kondisi kepala dan rambut masih ada cat berwarna silver.

“Mereka disiram air mineral kemasan oleh salah satu anggota Satpol-PP saat Kepala Satpol-PP Edi Siswoyo memberikan nasihat agar mereka mencari pekerjaan yang lebih baik dan terhormat,” katanya.

Namun demikian, baik Niko maupun Eka menyadari, meskipun tujuan dari tindakan ini adalah untuk memberikan efek jera, metode yang digunakan justru dinilai tidak adil dan tidak efektif. “Para pengamen dan manusia silver tersebut berasal dari kalangan yang kurang beruntung secara ekonomi, menurut kami tindakan represif seperti ini hanya memperburuk situasi, berhubung secara mental dan karakter mereka sangat berbeda dengan mental dan karakter anak rumahan,” ujarnya.

Setelah penangkapan, mereka didata dan diserahkan kepada Dinsos sebelum akhirnya dilepaskan kembali tanpa solusi.

Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas penertiban tersebut, terutama ketika diketahui bahwa masih banyak penjual minuman keras dekat permukiman yang tidak ditertibkan. Padahal, hal tersebut lebih berbahaya bagi generasi muda, namun masih dibiarkan tanpa segera diambil tindakan. Hampir setiap hari, berita tentang aksi tawuran genk motor liar bersenjata tajam selalu muncul di media, dan para pelakunya terindikasi dalam pengaruh minuman keras.

Niko dan Eka berharap pihak berwenang dapat merangkul para pengamen dan manusia silver dengan cara yang lebih manusiawi. Misalnya mengumpulkan mereka di satu tempat yang layak, memberikan snack, dan berbicara dari hati ke hati untuk memahami kondisi mereka, karena kita tidak pernah tahu permasalahan kehidupan ekonomi mereka. Diperlukan pendekatan yang lebih lembut dan berfokus pada pemberdayaan, agar mereka bisa mendapatkan peluang pekerjaan yang terhormat dengan pengarahan yang tepat.

“Cara seperti itu akan menjadi sebuah apresiasi sangat baik, dan nama baik menjadi prestasi luar biasa. Walaupun akan butuh perjuangan yang tak mudah, karena para pengamen dan manusia silver sebelumnya merasa menjadi target penertiban Satpol PP. Tugas kita adalah memberikan pengarahan dan dukungan yang tepa, yakinkan bahwa mereka juga mampu mempunyai masa depan yang baik, dan bagi kami ini menjadi tanggungjawab kita bersama,” tutup Niko.

 

 

Penulis: Yudi
judul gambar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *