banner 728x250

Kata Dizolimi Yang Terucap Ketika Kalah “TR”

Ket: Foto adalah ilustrasi tentang Praktik Politik Uang Pilkada
judul gambar
Catatan: Hatoguan Sitanggang (Pengamat Pinggiran)

SAMOSIR, MEDIA TRANSPARANCY – Akhir-akhir ini saya banyak mendengar informasi terkait TTR istilah bahasa batak”Togu-togu Ro”(Dugaan MoneyPolitik).

Kalau memang itu benar siapa yang dipersalahkan,barang tentu para elit politik terdahulu bukan masyarakat atau petarung pendatang baru yang hanya mengikuti tradisi yang sesungguhnya ibarat penyakit Stadium 4 atau sudah berakar serabut dikalangan masyarakat sebagai objek yang menjadi tontonan.

judul gambar

Bahkan banyak melihat ,mendengar dan merasakan, namun mereka semua hanya mempersalahkan pendatang baru,bully hujatan sering dilontarkan sangat tragis menurut saya kurang beretika”Tolak Maney politik” padahal karena dapat imbang atau kalah Taruhan.

Bila kita harus jujur dan boleh mengatakan kebenaran yang semu,Sementara dia juga sudah mempertontonkan hal demikian pada tahun tahun lalu.

Namun kini jumlah atau nominalnya dibawah taruhan pihak pendatang baru,sehingga mereka “beralibi “memutar balik fakta kesalahannya kepada orang lain,sekarang yang menjadi pertanyaan apakah ini tidak merupakan,”sebuah budaya bohong” bukalah kawan kaca mata kudamu.

Banyak mata melihat tontonan yang aneh ini,banyak orang hanya mendengar hingga membisu ,yang ironisnya banyak juga mengamini politik murahan seperti ini,serta menggagungkankan dengan bahasa “lanjut”

Buat saya ini semua sebuah” kemunafikan”,sifat egois tingkat dewa karna kalah mengikuti sistim yang telah kamu tanam pada lima(5) Tahun lalu.

Kuakui memang saya hanya penonton dengan semua kemunafikan ini,aku tidak bisa banyak berbuat,akan tetapi melalui ,tulisan yang tidak berbobot ini,saya akan coba mengatakan kebenaran yang kurasakan walau orang tidak seide atau sependapat.

Mungkin anda akan marah,mungkin anda akan benci sebuah ungkapan hati penuturan kata yang menurut anda kurang beretika,namun bagi saya itu tidak persoalan karna saya bukan orang “asal bapak senang”(ABS),seperti kebanyakan orang yang disampingmu demi meraup keuntungan semata tanpa moral.

Bila boleh aku “Jujur”mengungkapkan pengamatan hari ini diberbagai tempat yang sudah kamu Tanam Pohon berduri sejak 2015 lalu,kinilah saatnya “kena batunya,” atau bahasa lain bisa dibilang dapat imbang .

Tinggal 14 hari lagi disini banyak orang akan berkata berbeda dengan ungkapanku,akan tetapi bila ikut juga saya mengamini semua kebohongan yang hanya diperuntukkan untuk menyerang pendatang baru saya rasa tidaklah etis yang hanya mampu menyimpan budaya bohong.

“TTR”,menurut saya sangatlah sulit dibuktikan ‘namun buat (penulis)hanya mengingatkan bagi siapa saja para elit politik didaerah ini,janganlah kalian pertontonkan budaya bohong,bagi rakyat ini,karena apa yang anda tanam pasti itu yang anda tuai kelak.

Disini buat kawan kawan yang bisa melihat ini,nyatakan kebenaran jangan hanya mampu melihat dan hanya mengkritisi tulisan yang kurang kosa kata seperti para pujangga kawakan hanya menilai,bagi saya bahwa penulis dapat dilihat dari tulisan serta cara penyampainya pesan moral kepada para pembaca,bukan hanya sekedar olah kata dan kosa kata ,yang terpenting penyampaian arti pesan moral dipahami orang awam.

Hal ini kuungkapkan dengan sebenarnya hanya sebatas membuka cakrawala serta “kaca mata kuda” yang kerab dipertonton politikus kampungan, yang menghalalkan segala cara,demi memenangkan Jargonnya.

Diakhir kata kepada seluruh komponen masyarakat didaerah ini,janganlah kita selalu ikut-ikutan mengatakan yang tidak benar,katakanlah yang sebenarnya marilah hilangkan budaya bohong,demi kebaikan anak cucu kita,Mauliate Saloom… Salam Perubahan. (Red)

 

judul gambar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *