banner 728x250

Pembangunan LABKESDA Kota BEKASI senilai Rp 2,8 Miliar, ‘MOLOR’ selain sempat di PROTES Warga

judul gambar

KOTA BEKASI, MEDIATRANSPARANCY.COM – Proyek rehab atau renovasi Laboratorium Kesehatan Daerah (LABKESDA) Kota Bekasi tidak sesuai jadwal dalam pelaksanaan pengerjaannya. Dengan target penyelesaian pekerjaan selama 150 hari kalender. ‘Molornya’ progress pekerjaan dan pelaksanaan dilapangan apakah terkendala perencanaan atau hal lainnya.

Proyek kegiatan Rehab gedung LABKESDA Kota BEKASI senilai Rp 2,795,869,000 bersumber Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang Kesehatan 2020 itu terlihat masih belum rampung pengerjaannya.

judul gambar
Pelaksanaan pengerjaan proyek Rehab gedung LABKESDA seharusnya sudah selesai terhitung sejak tanggal 17 Desember 2020, sesuai dan berdasarkan Surat Perjanjian Pekerjaan atau SPMK (Surat Perintah Mulai Kerja) Nomor : 602.1/32.11-SPMK/PPK-Bandung/DPKPP.dok-istimewa

Padahal pengerjaannya harus sudah selesai terhitung sejak tanggal 17 Desember 2020, sesuai dan berdasarkan Surat Perjanjian Pekerjaan atau SPMK (Surat Perintah Mulai Kerja) Nomor : 602.1/32.11-SPMK/PPK-Bandung/DPKPP, terpantau pada, Rabu (16/12/2020) sore.

Namun hingga kini proyek rehab tersebut belum selesai dikerjakan alias molor. Keterlambatan proyek ini pun diakui oleh Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (Disperkimtan) Kota Bekasi.

Akibat keterlambatan tersebut, menurut Kepala Bidang (Kabid) Bangunan Gedung Disperkimtan, Amran, ST menjelaskan via sambungan telepon selulernya, bahwa keterlambatan akibat adanya protes dari warga.

“Untuk kontrak tersebut sedang diproses addendum, perpanjangan waktu yang hilang akibat ada permasalahan penolakan dari warga yang sampai 2 bulan ditahap awal dan difasilitasi oleh Komisi DPRD baru bisa mulai, thanks,” ketusnya saat dikonfirmasi mediatransparancy.com.

Selain itu, pihaknya enggan membeberkan secara rinci perihal apa yang jadi penyebab utama dari ‘molornya’ pengerjaan rehab (renovasi) proyek gedung Labkesda Dinas Kesehatan milik Pemkot Bekasi tersebut, sang kabid justru malah memblokir nomor WhatsApp wartawan.

Disisi lain, sebagai pelaksana proyek PT Jatisibu Karya Anugerah, adapun selaku pihak konsultan pengawas pekerjaan belum diketahui saat awak media berada dilokasi. Dan berdasarkan pantauan tampak sejumlah pekerja terlihat tengah ‘mengebut’ sisa pengerjaan yang kurang untuk dilengkapi.

Sementara itu, Janson P. Sitorus selaku Direktur utama PT Jatisibu Karya Anugerah (penyedia/pelaksana proyek) saat hendak dimintai tanggapannya selalu menghindar, hanya mempersilahkan untuk menelepon balik. Namun saat dihubungi tidak mau mengangkat telepon genggamnya.(*)red

Penulis : Zark
judul gambar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *