banner 728x250
HUKUM, NEWS  

Ungkap  Pelaku Sesungguhnya Pembunuh Suminih Alias Icha

Tersangka Ustad Jaelani bersama penyidik Polsek Cakung saat akan dilimpahkan ke Pengadilan Jakarta Timur
judul gambar

Jakarta, Mediatransparancy.com – Ada banyak kejanggalan dalam pengungkapan kasus pembunuhan Suminih alias Icha. Menurut keterangan Hisar Sihotang selaku Ketua Tim Investigasi Persatuan Wartawan republic Indonesia Jakarta Utara yang mengatakan,”Seharusnya pihak aparat kepolisian melakukan proses penyelidikan yang lebih mendalam terkait kasus ditemukannya mayat tak dikenal di jembatan fly over wilayah cakung tanggal 14 Juni 2016  dengan identitas yang belakangan diketahui bernama Suminih alias Icha (38 th). Hal ini saya kemukakan setelah melakukan investigasi dan mendapatkan beberapa temuan dan keterangan baik dari keluarga tersangka maupun dari teman korban.” Ungkapnya kepada awak media.

Penasehat hukum terdakwa saat berdiskusi dengan Hisar Sihotang di PN Jakarta Timur
Penasehat hukum terdakwa saat berdiskusi dengan Hisar Sihotang di PN Jakarta Timur

“Salah seorang sahabat korban berinisial TN menceritakan bahwa dia yang memperkenalkan korban kepada Ustad Jaelani tahun 2015. Menurut keterangan TN, korban sebelum terbunuh ingin menemui Ustad Jaelani sebab mempunyai masalah utang kepada rentenir yang bernama Mama Sur. Cerita korban kepada TN bahwa korban sedang menjalin hubungan asmara dengan seorang laki laki berinisial AR (38 th)  yang sudah beristri. Karena AR menjanjikan akan menceraikan istrinya agar dapat menikahinya, maka Suminih sering berkeluh kesah kepada TN tentang kelakuan AR dimana AR hanya berjanji janji. Akibat janji AR maka Suminih sudah banyak berkorban baik perasaan maupun financial.”Terang TN kepada Hisar di rumahnya semper jakut.

judul gambar

“Ketika saya konfirmasi kepada tersangka terkait cerita diatas, Ustad jaelani membenarkan ungkapan teman korban. Ditambahkan bahwa sebelumnya TN, kawan korban adalah rekan satu profesi dengan Suminih. Tetapi TN rupanya sudah bertobat dan memilih pekerjaan lainnya.

Kalau saja penyidik/pihak kepolisian benar benar serius ingin mengungkap siapa pelaku pembunuhan tersebut, berdasarkan cerita kronologis Ustad jaelani soal pengantaran handphone kepada tersangka, polisi seharusnya membuka isi percakapan hape si korban dimana cerita korban kepada tersangka bahwa koban sedang diancam oleh seseorang terkait hutang korban. Sayangnya hal ini tidak diselidiki lebih jauh oleh penyidik,” Ujar Ustad Jaelani.

Ustad Jaelani, SPd.I Bin H. Gozali Nawawi di ruang tahanan  Pengadilan Negeri Jakarta Timur
Ustad Jaelani, SPd.I Bin H. Gozali Nawawi di ruang tahanan Pengadilan Negeri Jakarta Timur

Berikut kronologi menurut ustad Jaelani, pangkalnya berawal dari telepon genggam Icha (Suminih) yang diberikan kepada saya. Berawal dari telepon sudari Icha yang dikasih tahu sodari Titin untuk konsultasi masalah kehidupan pribadinya.

Pada waktu itu Ustad Jaelani, S.Pd.I bin H. Gozali Nawawi  sedang ada pengajian di majelis Sadulur, beberapa menit kemudian ada telepon masuk yang intinya Icha mau ketemuan untuk konsultasi terkait masalahnya dengan rentenir. Rencananya akan ketemu jam 22.00 WIB di Islamic center Koja Jakarta Utara, terang ustad Jaelani.

“Terus saya minta izin ke semua jemaah untuk meninggalkan pengajian tersebut, sekitar jam 22.00 WIBB saya (Jaelani) sampai di Islamic Center lalu bertemu dengan saudari Suminih alias Icha, ada pun dialog antara saya dengan Icha sebagai berikut petikannya :

Saya (Ustad)  : Kok bawa helm, diantar siapa ?

Icha : Saya diantar tukang ojek pak ustad

Saya : ohh… mana tukang ojeknya ?

Icha : lagi beli pulsa….

Singkat lalu saya dan Icha menuju area masjid Islamic Center, setelah sampai di masjid saya menjelaskan ke saudari Icha untuk berwudlu dan melaksanakan sholat taubat (memohon ampun kepada Allah) dari segala kesalahan saudari Icha, terlebih masalah terlibat hutang sama rentenir (mama Sur) dan saya pun akhirnya sholat dan wirid (membaca doa) hajad sampai jam 23.00 WIB  lalu keluar sekitar jam 23.30 WIB, keduanya (saya dan Icha) pulang masing-masing. Terus kurang lebih sekitar 12 menit, saya keliling arah keluar pasar malam Islamic Center tepatnya jam 23.42 WIB, tiba-tiba ada seorang yang tidak saya kenal memanggil-manggil ustad…ustad…

saya : ada apa mas… nyari saya…

orang tidak dikenal (OTK) : Maaf ada titipan dari mbak Icha

saya : apa yah itu

OTK : ini bungkusan dari mbak Icha sebagai penajam untuk pak ustad

Saya : ga usah…. Ga usah…. Saya ikhlas kok untuk membantunya, kasih ke mbak Icha lagi ajah

OTK : Aduh bagaimana yah pak ustad, saya disuruh antar ke pak ustad, soalnya amanat.

Saya : terus mbak ichanya kemana…? Kenapa bukan mbak Icha…?

OTK : maaf mbak Icha nya lagi makan nasi goreng.

Saya : ohhh gituuu… emang ini apa…pakai dibungkus segala…?

OTK : ga tau nih…. Mbak Icha sih bilangnya untuk penajam pak.

Sekitar Jam 23.50 WIB kemudian orang yang saya tidak kenal tersebut pun pergi lalu saya buka bungkusan tersebut ternyata isinya  Hand Phone (HP), tidak lama kemudian santri saya lewat (M. Jefri) seraya mengucap sapa :

M. Jefri : dikasih HP pak ustad…?

Saya : kok kamu tahu

M. Jefri : Tadi saya liat pak ustad ngobrol sama yang ngasih HP, tapi takut saya mengganggu

Saya : ohh gitu… saya pergi duluan yah

Sekitar jam 00.10 WIB saya pergi meninggalkan M Jefri menuju tugu NKRI, dipertengahan jalan tepatnya sekitar jam 00.35 WIB, saya mampir ke SPBU pasar bebek untuk isi bensin, setelah itu melanjutkan perjalanan ke tugu NKRI, sekitar jam 01.35 WIB sampai, lalu saya wirid di masjid Betawi Al Karomah didepan tugu NKRI, kurang lebih 1 jam setelah itu langsung pulang ke jalan Bhakti sampai jam 03.10 WIB,  saya lalu ngobrol kurang lebih 10 menit di majelis sama Aditio Januar lalu saya masuk kamar membangunkan isteri untuk sahur bersama, saya, Adit dan isteri sahur bersama sekitar jam 03.45 WIB.

Setelah istirahat sahur selesai lanjut sholat shubuh berjamaah kemudian pengajian shuibuh Robul Qutub sekitar sampai jam 07.00 WIB, kemudian saya masuk kerumah untuk persiapan sholat Dhuha dengan santri saya tidur. Jam 13.00 WIB saya pamit berangkat ke Indramayu.

Begitulah kronologis sesungguhnya dan semoga dapat dijadikan sebagai bukti.”papar Jaelani.

Menurut keterangan istri tersangka saat dimintai keterangan di rumahnya mengatakan,”Bahwa berita yang beredar di beberapa media tidak benar bahwa istri tersangka cemburu kepada Ustad jaelani. Justru  saat korban melakukan ritual pengobatan, saya turut serta membantu Ustad. Jadi apabila diberitakan bahwa Ustad membunuh Icha karena cemburu itu tidak benar,” paparnya.

“Saya akan memperjuangkan keadilan dan perlindungan hokum bagi suami saya yang sekarang dituduh dengan dakwaan membunuh Suminih alias Icha. Dan keluarga serta kuasa hukum telah melakukan upaya pra-peradilan untuk mengungkap prosedur maupun berita acara penangkapan Ustad jaelani, Nampak sekali banyak kejanggalan dan ketidakadilan telah diberlakukan kepada suami saya dan keluarga. Saya berharap agar pemerintah memperhatikan proses hokum terhadap kasus pembunuhan Suminih yang terasa janggal. Saat ini juga kami melaporkan penyidik ke propam mabes polri untuk meminta perlindungan hokum, namun sampai saat ini belum ada upaya yang serius dari pihak propam menanggapi laporan kami. Bayangkan saja, suami saya diculik dari rumahnya, lalu dibawa ke hotel Flaminggo Indramayu jawa barat selama dua malam untuk diinterogasi dan dipaksa mengakui sebagai pembunuh Suminih alias Icha. Kalo tidak mau mengakui,  anak istrinya akan dibunuh,” Ungkap  Hj. Siti Cholilah di rumahnya (25/10/2016).

Tonton juga: Sidang Eksepsi Ust Jaelani, Pengacara Curiga Sarat Dengan Konspirasi?  http://kantorberita.co.id/nasional/jakarta-raya/sidang-eksepsi-ust-jaelani-pengacara-curiga-sarat-dengan-konspirasi/

(Penulis/Reporter : Koko)

judul gambar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *